Pasokan Berlimbah, Minyak Down
- Mar 10, 2017
- 2 min read
PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
Rifan Financindo - Semarang, Minyak diperdagangkan di bawah $ 50 per barel setelah meningkatnya pasokan AS menghentikan semua keuntungan selama tiga bulan terakhir dari kesepakatan OPEC untuk memangkas produksi.Kontrak naik sebanyak 1 persen di New York, pangkas penurunan sebesar 7,6 persen selama empat sesi terakhir yang berakhir pada penutupan terendah sejak 29 November, sehari sebelum kesepakatan OPEC untuk memangkas pasokan. Persediaan AS telah naik ke rekornya selama empat minggu berturut-turut dan output telah melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun, menurut data pemerintah pada hari Rabu. Ekspor nasional yang akan meningkat di tengah melebihi output di Texas, menurut laporan dari Vitol Grup BV, pedagang minyak.Harga minyak telah berfluktuasi di atas $ 50 per barel karena Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan 11 negara lainnya mulai pemangkasan pasokan selama enam bulan pertamanya yang dimulai 1 Januari lalu.
Menteri Perminyakan Arab Saudi Khalid Al-Falih pekan ini mengatakan persediaan global jatuh lebih lambat dari yang diharapkan, membuka peluang kembali untuk memperpanjang kesepakatan pengurangan output.Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April naik sebanyak 51 sen ke level $ 49,79 per barel di New York Mercantile Exchange dan diperdagangkan di level $ 49,63 pada pukul 13:22 siang waktu Hong Kong.
Total volume perdagangan sekitar 26 persen di bawah 100-hari rata-rata. Kontrak kehilangan $ 1, ke level $ 49,28 pada hari Kamis. Harga yang dipatok untuk kerugian mingguan terbesar sejak 4 November.Brent untuk pengiriman Mei menguat sebanyak 47 sen atau 0,9 persen, ke level $ 52,66 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Harga minyak Brent turun 92 sen atau 1,7 persen, ke level $ 52,19 pada hari Kamis, penutupan terendah sejak 30 November. Minyak mentah acuan global diperdagangkan pada premium dari $ 2,35 untuk WTI pada bulan Mei.
Emas merosot di bawah $ 1.200 per ons, yang merupakan penurunan terpanjang sejak Oktober lalu seiring data ekonomi AS yang positif memperkuat ekspektasi bahwa imbal hasil investasi lainnya akan naik tahun ini.
Bullion untuk pengiriman segera turun sebanyak 0,3 persen ke level $ 1,197.70, yang terendah sejak 31 Januari lalu, dan berada di level $ 1,198.57 pada pukul 9:22 pagi waktu Singapura, menurut harga dari Bloomberg. Logam ini merosot 2,9 persen selama minggu ini setelah jatuh dalam lima hari terakhir seiring imbal hasil obligasi tenor 10-tahun memperpanjang kenaikan, membuat aset yang dikenakan bunga menjadi kurang menarik.
Logam mulia telah tertekan oleh pejabat Federal Reserve termasuk Ketua Janet Yellen yang berbicara atas prospek suku bunga yang lebih tinggi pada bulan ini. Data pekerjaan swasta AS lebih baik dari perkiraan minggu ini juga mendorong mata uang dolar menguat jelang laporan data payrolls resmi pada hari Jumat, yang merupakan bagian besar terakhir dari berita ekonomi sebelum pertemuan The Fed pekan depan. Sementara itu, Bank Sentral Eropa memberikan sinyal tidak akan menambahkan stimulus.
BACA JUGA : Report Pengangguran Buat Saham AS Tertekan

Comments