MENIKMATI PERJALAN AMBARAWA-BEDONO DAN MENIKMATI AIR TERJUN DI MALANG
- Apr 13, 2017
- 4 min read
PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
RIFAN FINANCINDO - SEMARANG, Jawa Timur, mempunyai sekitar 30 air terjun, yang di dalam istilah setempat disebut coban. Salah satu coban, yang lokasinya tersembunyi di lereng sisi barat Gunung Semeru, tetapi dapat menjadi andalan pariwisata Kabupaten Malang, adalah Sumber Pitu.Jarum jam baru menunjuk pukul 10.45, tetapi mendung telah menggelayut di atas Desa Duwet Krajan, Kecamatan Tumpang, di Malang timur.Lelah kaki setelah menyusuri jalan kecil menurun sejauh sekitar 1 kilometer, yang membelah lahan warga, langsung terbayar begitu menjumpai mata air kecil yang mengucur di ujung bilah bambu.Sebuah papan kecil bercat kuning dengan tulisan Sumber Air Sugeng Rawuh, yang dibuat oleh mahasiswa salah satu kampus di Malang saat melakukan kuliah kerja nyata di tahun 2015, tertancap di dekatnya.
Sesuai namanya, 'Sugeng Rawuh' dalam bahasa Jawa berarti 'selamat datang' sehingga mata air itu seolah menjadi penanda bahwa pengunjung telah memasuki area yang dituju. Sementara itu, gemuruh air terjun di dasar lembah terdengar kian jelas.
Setelah mengamati mata air kecil itu, langkah kaki kembali diayunkan. Setelah melewati gapura bambu dan tikungan kecil, baru terlihat air terjun setinggi 30-40 meter di salah satu tebing. Hasrat ingin segera merasakan dinginnya air langsung membuncah.
Setelah akhirnya merasakan segarnya air terjun, timbul keinginan menjelajah lebih jauh untuk melihat apa saja yang ada di tempat itu termasuk mencari sumber air yang lain.
Hal itu mengingat nama Sumber Pitu (tujuh sumber) artinya ada tujuh sumber air di tempat itu.
Kaki pun tergerak melangkah menyusuri sebuah titian bambu antara batu-batu vulkanik di badan sungai. Ternyata, benar saja. Di balik sebuah bukit kecil yang berhiaskan beberapa warung bambu terdapat sejumlah mata air yang memancar dari sela-sela tebing.
Seperti air terjun utama, kondisi air yang memancar dari sela-sela tebing itu dingin dan jernih.
Harus diakui, debit air di Sumber Pitu terbilang deras. Ini bila dibandingkan dengan sumber air lain, yang pernah Kompas sambangi, seperti di Sumber Brantas, Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, Batu, yang airnya melintasi belasan kabupaten di Jawa Timur.
Tak mengherankan jika air yang keluar dari beberapa sumber itu langsung masuk ke bak penampungan milik perusahaan air minum daerah. Adapun sebagian air tetap dibiarkan mengalir ke hilir.
”Air terjunnya keren. Hampir sama dengan Cuban Rondo (Pujon) meski di Cuban Rondo embusan anginnya lebih kencang,” kata Septian (25), warga Pakis, Kabupaten Malang, yang baru pertama kali datang ke Sumber Pitu.
Septian yang datang bersama empat temannya ingin membuktikan keindahan Sumber Pitu.
Selama ini, ia hanya mendapatkan gambaran mengenai Sumber Pitu dari media sosial. Meski Septian mengakui keindahan Sumber Pitu, dirinya menyarankan peningkatan kualitas jalan dari kampung menuju Sumber Pitu.
Apalagi, sekitar 25 persen akses jalan masih berupa tanah dan belum diperkeras menggunakan semen sehingga becek saat hujan turun.
Kesan serupa diungkapkan Irfan Mauludin (16), salah satu warga Kota Malang. Irfan datang ke lokasi bersama kawannya, Rifki Atala (16), dengan mengendarai sepeda gunung. Keduanya berangkat pukul 07.00 dan baru sampai di lokasi sekitar pukul 10.00.
”Pemandangannya bagus, masih alami. Kita tidak saja bisa melihat suasana alam, tetapi juga aktivitas warga di lahan. Tapi, jalan masuk perlu diperbaiki,” kata siswa salah satu SMK di Kota Malang itu.
Irfan, yang baru kali pertama datang ke Sumber Pitu, menilai, suasana air terjun itu mirip Coban Jahe di Desa Pandansari Lor, Kecamatan Jabung.
Lokasi Sumber Pitu juga sangat strategis dalam jalur wisata andalan di Kabupaten Malang. Lokasinya tidak jauh dari akses jalan dari Tumpang menuju Gunung Bromo dan Semeru.
Tidak jauh di sebelah barat juga terdapat Candi Jago.
Dikelola warga
Kajat (29), warga Duwet Krajan, mengatakan, sejauh ini Sumber Pitu dikelola masyarakat setempat.
”Yang membuat gapura masuk dari bambu dan jembatan bambu juga masyarakat. Di dekat air terjun ada tempat penitipan kendaraan yang juga dikelola masyarakat,” ujarnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang Made Arya Wedhantara mengatakan, Sumber Pitu memang dikelola masyarakat.
Pemerintah daerah hanya membantu akses jalan dan promosi. Hal itu tidak hanya diterapkan pada Sumber Pitu, tetapi juga pada obyek wisata lain.
”Memang sudah kebijakan pemerintah daerah bahwa semua obyek wisata melibatkan masyarakat sebagai pengelola, baik itu desa maupun kecamatan. Ada juga yang dikelola Perhutani,” katanya.
Kabupaten Malang, kata Made, sangat kaya akan obyek wisata alam. Untuk promosi, pemda telah membukukan obyek-obyek wisata air terjun yang ada.
DARI Stasiun Ambarawa menuju Stasiun Bedono, Jawa Tengah, HM Sudono (63) menceritakan asal usul si Boni, lokomotif uap berusia 115 tahun. Dia berhasil membawa generasi muda menyelami sejarah kereta api uap dalam 100 menit perjalanan.
Sudono adalah tenaga profesional cagar budaya di Stasiun Ambarawa. Dia pernah menjabat kepala Stasiun Ambarawa selama 10 tahun pada 1996-2006.
Pada Sabtu (1/4/2017) pagi, Sudono menemani perjalanan tamu undangan majalah Jateng Travel Guide edisi V yang mayoritas generasi muda.
Pagi itu, rombongan berkumpul di Stasiun Ambarawa yang bernama asal Stasiun Willem I. Stasiun dibangun Nederlandsch Indische Spoorweg Maatscappij seiring invasi militer Belanda ke Pulau Jawa. Saat itu, Belanda membuka jalur Yogyakarta-Magelang kemudian merambah ke Ambarawa dan Semarang.
Bunyi peluit panjang terdengar nyaring. Lokomotif mesin uap yang menarik dua gerbong kayu berwarna hijau memasuki stasiun.
Lokomotif uap buatan tahun 1911 itu berwarna hitam pekat dan mempunyai cerobong asap di bagian depan. Melalui pengeras suara, Sudono mengumumkan kereta berangkat 5 menit lagi.
Aqidah Rahmawati (22) dan Putri Fajar (22), alumni Universitas Negeri Semarang, bergegas memasuki gerbong dan menempati kursi dekat jendela tanpa kaca.
Mereka mengarahkan pandangan ke papan kayu bertuliskan informasi pembuatan kereta. Ini adalah pengalaman pertama menumpangi kereta api uap.
”Biasanya cuma lihat di gambar atau film kartun. Senang sekali dapat kesempatan naik kereta uap,” ujar Rahma.
Kereta api uap itu mulai jalan perlahan meninggalkan Stasiun Ambarawa yang terletak di ketinggian 474 meter di atas permukaan laut (mdpl) menuju Stasiun Bedono pada ketinggian 711 mdpl.
Sudono mempersilakan penumpang berdoa memohon kelancaran perjalanan. Dengan kecepatan berkisar 5-10 kilometer per jam, kereta perlahan melewati desa-desa.
Sudono bercerita, si Boni berbeda dengan koleksi lokomotif lain di Museum Ambarawa. Lokomotif mesin uap memiliki roda bergerigi untuk mengait rel bergerigi di jalur setelah Stasiun Jambu, berjarak sekitar 5 kilometer dari Stasiun Ambarawa, menuju Stasiun Bedono.
Roda bergerigi ini terbilang unik karena hanya bisa ditemukan di Indonesia, Swiss, dan India.
BACA JUGA : Cerita Akhir Debat Pilkada Jakarta 2017

Comments