JEJAK SEJARAH DI KARANGANYAR DAN PETILASAN PANGERAN KUNING
- May 3, 2017
- 4 min read
RIFANFINANCINDO - SEMARANG,Kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari sungai. Sungai Dayu, Karanganyar menyimpan jejak kehidupan purba di sepanjang alirannya. Sungai Dayu adalah sebuah sungai kecil di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sungai ini nantinya bergabung dengan aliran sungai yang lebih besar, yaitu Sungai Cemoro di Sragen, untuk kemudian mengalir bersama-sama ke Sungai Bengawan Solo dan akhirnya bermuara di lautan. Meski aliran sungainya kecil, tetapi ada yang menarik di sana. Dahulu di sungai ini kehidupan purba sudah mulai berkembang ratusan ribu tahun sebelum kita ada sekarang. Buktinya bisa traveler lihat dari penemuan fosil tulang-tulang binatang seperti gajah purba yang ditemukan tak jauh dari Sungai Dayu. Fosil-fosil ini ditemukan di dalam kedalaman tanah Situs PCTS (Pucung Tanah Subur).
Situs PCTS (Pucung Tanah Subur) (Wahyu/detikTravel) Foto: Wahyu/detikTravel
detikTravel berkesempatan mengunjungi Situs Purbakala PCTS sekitar 2 pekan lalu. Perjalanan dimulai dari Cluster Museum Dayu dengan menggunakan mobil. Tak sampai 15 menit, mobil kami sampai di titik terakhir yang bisa dijangkau mobil, yaitu di tepian Sungai Dayu. Rombongan kami diantar oleh Sukadi, pemuda asli kelahiran Dayu. Ayah Sukardi, yaitu Pak Tukimin almarhum yang pertama kali menemukan fosil Sangiran-17 (S-17) pada tahun 1969, di sekitar Sungai Dayu. Fosil S-17 menjadi tonggak sejarah dalam dunia penelitian arkeologi di Indonesia. Itu karena fosil S-17 memiliki profil tengkorak terlengkap dibandingkan dengan penemuan-penemuan fosil sebelumnya. Dari fosil S-17 inilah, wajah manusia purba bisa direkonstruksi ulang oleh seniman bernama Elisabeth Daynes.
Menyusuri Sungai Dayu (Wahyu/detikTravel) Foto: Wahyu/detikTravel
Kembali ke Situs PCTS, perjalanan menyusuri Sungai Dayu kami lakukan dengan berjalan kaki. Di sungai ini, ada banyak batu-batu besar. Di samping kanan dan kirinya cukup rindang karena ada banyak pepohonan, sawah dan ladang. Di kanan dan kiri sungai, terdapat bekas pengambilan sampel tanah. Sampel tanah ini diambil untuk mengetahui profil tanah dan berapa usia dari lapisan tanah tersebut. Dari hasil analisis, para peneliti mendapati bahwa lapisan tanah di Sungai Dayu ini adalah Lapisan Kabuh yang terbentuk 730 ribu tahun yang lalu.
Bekas pengambilan sampel tanah di tepi Sungai Dayu (Wahyu/detikTravel) Foto: Wahyu/detikTravel
Saya jadi membayangkan kehidupan zaman purba yang pernah terjadi di sungai ini. Sungai ini pasti jadi elemen penting, karena banyak mahkluk hidup yang menggantungkan air dari sungai ini untuk bertahan hidup. Termasuk jenis gajah purba (Stegodon dan Mastodon) serta manusia Homo erectus. Sekitar 20 menit menyusuri tepian sungai, akhirnya kami sampai juga di Situs PCTS. Situs ini terdiri dari sebuah bangunan kecil yang difungsikan sebagai museum mini, serta gudang alat-alat. Situs penggaliannya sendiri terletak di belakang bangunan tersebut, berjarak sekitar 100 meter. "Ini Situs PCTS, Pucung Tanah Subur. Namanya seperti itu karena ini berada di atas tanah milik Pak Subur," jelas Sukadi.
Situs penggalian purbakala PCTS ini memang berada di tengah kebun yang dikelilingi hutan jati. Tak jauh dari bibir Sungai Dayu, jaraknya kurang dari 25 meter saja. Rupanya nama Pucung Tanah Subur diambil bukan karena tanah di sini memang subur, melainkan tanahnya memang milik dari warga bernama Pak Subur. Di Situs PCTS ini dilakukan sejumlah penggalian dan penelitian oleh para arkeolog. Hasilnya ditemukan fosil gajah purba Stegodon sp, berupa gading dan sejumlah tulang lainnya. Kemudian ditemukan juga sejumlah alat serpih batu, serta fragmen fosil lainnya.
Dokumentasi saat penggalian gading gajah Stegodon sp. (Wahyu/detikTravel) Foto: Wahyu/detikTravel
Tapi itu dulu, sekitar 8 tahun ke belakang. Kini Situs PCTS hanya menyisakan semacam kolam yang dulunya digunakan untuk lokasi penggalian. Sementara di dinding-dindingnya, terdapat lubang-lubang tempat pengambilan sampel tanah, serta fosil alat serpih dari batu. Menurut Sukadi, tahun depan di Situs PCTS akan dilakukan penggalian arkelogi lagi. Tetapi tidak di titik yang sama, tetapi bisa bergeser di sebelahnya, tak jauh dari titik semula. Penemuan fosil memang tidak bisa diprediksi, bisa jadi di satu titik yang berdekatan, justru tidak ditemukan fosil yang sama.
Bekas pengambilan sampel tanah di Situs PCTS (Wahyu/detikTravel) Foto: Wahyu/detikTravel
"Terakhir dilakukan penggalian tahun 2014, mungkin tahun depan akan dilakukan penggalian lagi, tapi tidak di titik ini, bisa di titik lainnya. Kalau fosil itu kan tidak bisa diprediksi, bisa ditemukan di mana saja," ujar Sukadi. Traveler bisa melihat Situs PCTS ini bila kebetulan sedang berkunjung ke Cluster Museum Dayu, Karanganyar, Jateng. Pak Sukadi bisa mengantarkan sampai ke lokasi, juga ke lokasi dimana ayahnya dulu menemukan fosil S-17. Berkunjung ke lokasi ini sedikit bisa memberika gambaran tentang kehidupan purba ynag berlangsung ratusan ribu tahun silam.
Petilasan Pangeran Kuningan kembali dibicarakan lantaran kondisinya yang terhimpit bangunan tinggi milik Telkom di Jalan Gatot Subroto, Kuningan Barat, Jakarta Selatan.
Petilasan tokoh yang kerap disebut Adipati Jayakarta dan terletak di himpitan gedung pencakar langit itu memang menyisakan pertanyaan. Apakah benar petilasan tersebut benar berupa makam atau hanya prasasti?
Sejarawan Betawi Alwi Shahab mengatakan petilasan Pangeran Awwangga atau Pangeran Kuningan itu bisa jadi berupa makam.
" Mungkin itu tempat pemakaman," kata Alwi saat dihubungi Dream, Selasa, 27 Desember 2017.
Tetapi, kisah mengenai petilasan itu dipandang berbeda oleh sejarawan JJ Rizal. Menurut Rizal, kisah petilasan semacam itu sudah banyak tersebar di Jakarta. Dan dari banyak kisah yang beredar tersebut, sambungnya, lebih banyak cerita ketimbang fakta sejarahnya.
" Kita susah menemukan sejarah. Kita lebih banyak menemukan cerita. Nah kalau cerita itu dibumbui segala macam hal," ucap Rizal.
Segala hal yang dia maksud yaitu orang yang menjadi sumber penelitian sejarah memiliki keyakinan para cerita yang biasanya bersifat turun menurun.
" Mau percaya ada kebenaran sejarahnya atau tidak, mereka merasa, tempat yang mereka datangi itu memiliki kekuatan yang bisa membantu mereka," ucap dia.
Dia mencontohkan, perbincangan mengenai makam Mbah Priok yang dikaitkan dengan banyak hal. Menurut dia, dalam pembahasan mengenai makam Mbah Priok yang tidak berkaitan dengan asal usul Tanjung Priok, itu lebih banyak unsur cerita yang berkembang.
Meski begitu, keyakinan terhadap cerita mengenai asal muasal suatu wilayah yang tertandai oleh petilasan berupa makam atau prasasti merupakan hak warga masyarakat setempat.
" Masyarakat berhak merekonstruksi yang mereka inginkan dan yakini bahwa dia (tokoh di petilasan) itu asal usul wilayah itu," kata Rizal.(Sah)
BACA JUGA :

Comments