top of page

MENINGKATKAN KARIER DI BULAN RAMADHAN

  • Jun 13, 2017
  • 4 min read

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO - SEMARANG,

Setelah berkeluarga dan memiliki anak, ada stereotip yang menyebut karyawan wanita kurang kompetitif dan minat kerjanya menurun karena fokus utamanya lebih ke anak.

Faktanya ternyata tidak demikian. Menurut salah satu kajian Accenture , ibu-ibu yang kembali bekerja setelah melahirkan anak justru memiliki semangat kerja lebih tinggi dibanding dengan rekannya yang lajang.

Dalam kajian tersebut dikatakan, 70 persen wanita yang telah memiliki anak semangat kerjanya lebih besar ketimbang 67 persen wanita yang belum memiliki anak.

Bukan hanya itu, ibu bekerja juga cenderung lebih giat mengejar kenaikan pangkat dan gaji yang lebih tinggi.

Penelitian lain menyebutkan, karena harus lebih cerdas membagi waktunya, banyak ibu bekerja yang justru bekerja lebih efisien di kantor sehingga tidak perlu lembur atau membawa pulang pekerjaan.

Selain mengejar karier di kantor, seorang ibu juga umumnya menginginkan menjadi wirausaha yang sukses dan menjalankan usahanya sendiri.

Wanita yang telah memiliki anak juga tak akan ragu untuk meminta kelonggaran waktu kerjanya untuk mengimbangi kehidupan kerja dan keluarga. Motivasi terbesar seorang wanita untuk bekerja biasanya untuk membantu finansial keluarga atau pun ingin mengikuti passion.

SYUKUR alhamdulillah, kita masih diberi kesempatan untuk meningkatkan amal ibadah kita kepada-Nya di bulan suci Ramadhan ini dengan berpuasa dan berbagai ibadah lainnya. Ini adalah karunia yang amat besar, sebab hidup di bulan suci Ramadhan berarti kita diberi kesempatan beribadah yang pahalanya berlipat ganda. Lebih dari itu, Allah Swt akan menjauhkan orang yang berpuasa dari api neraka, sebagaimana sabda Raasulullah saw, “Allah mengharamkan jasad orang yang berpuasa dari jilatan api neraka.”

Pada hadis lain, Ibnu Abbas pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Seandainya umatku mengetahui apa yang terdapat di dalam Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar supaya sepanjang tahun itu menjadi Ramadhan karena sesungguhnya semua kebaikan berkumpul di bulan Ramadhan, seluruh ketaatan diterima (oleh Allah), seluruh doa dikabulkan, semua dosa diampuni dan surga rindu pada mereka.”

Sungguh, bulan Ramadhan adalah peluang yang baik dalam meraih pahala yang sebanyak-banyaknya. Tentunya bagi mereka yang memahami arti keutamaan dan hakikat kemuliaan Ramadhan itu sendiri. Oleh karena itu, ilmu yang berkaitan dengan puasa adalah suatu keniscayaan dan mutlak harus mereka kuasai, agar pelaksanaan puasa lebih sempurna sesuai dengan tuntutan syara’ yang pada gilirannya akan memperoleh title takwa.

Suatu gelar dan pristice akan tercermin setelah Ramadhan nanti menjadi sosok pribadi (syakhshiyyah) yang paripurna, jiwa dan perilaku yang bening dan santun (nafsun naqiyyah), yang jauh dari sifat dan sikap tercela (bad attitude), bahkan sifat dan sikap terpuji (good attitude) yang lebih dominan.

Mempersiapkan diri Orang yang benar-benar beriman, memasuki bulan Ramadhan jiwanya menjadi tenang dan gembira. Gembira dalam arti jiwanya bahagia karena sudah mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk beribadah semata-mata karena Allah dan mengisi Ramadhan dengan berbagai aktivitas sebagai suatu manifestasi bathiniyyah imaniyyah.

Di bulan inilah semua bentuk kebaikan yang kita lakukan diterima oleh Allah swt. Doa-doa pun di-istijabah-kan. Dosa-dosa yang pernah kita lakukan akan diampuni-Nya, asalkan kita mau bertaubat. Sehingga pintu surga senantiasa terbuka bagi siapa saja yang mau mengisi Ramadhan dengan berbagai amal kebaikan.

Demikian besar keutamaan Ramadhan sehingga Allah Swt menurunkan Alquran di bulan ini sebagai petunjuk bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak. Sebab itu di bulan suci ini sangat dianjurkan membaca Alquran, ber-tadarrus, ber-tadabbur dan selanjutnya mengamalkan isi yang terkandung di dalamnya sesuai dengan kapasitas kemampuan masing-masing.

Di sisi lain, hikmah Ramadhan adalah di mana ada satu malam yang paling bernilai ibadahnya jauh lebih baik dari beribadah seribu bulan yaitu Lailatul Qadr. Hal ini sangat dinanti-nantikan oleh umat Islam sebagai ajang untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas ibadahnya.

Sungguh Ramadhan Karim memberi syafaat yang besar dalam hidup kita karena kita melaksanakan puasa dengan penuh dedikasi sebagai pengabdian semata-mata karena keimanan dan keikhlasan kepada Rabb. Dengan begitu dosa yang selama ini kita perbuat mendapat ampunan dari-Nya. Tersebut dalam sebuah hadis, Rasullullah saw bersabda, “Man shama Ramadhana Imanan wa ihtisaban, ghufira lahu ma taqaddama min dzanbihi.”

Pada hakikatnya puasa adalah kemampuan mengendalikan diri (hawa nafsu) dari hal-hal yang negatif. Dengan kata lain, kemampuan melaksanakan perintah agama yang tidak hanya tergantung pada kemampuan fisiknya saja, akan tetapi lebih dominan pada mental spiritualnya. Dan kemampuan mental spiritual ini sangat dipengaruhi oleh kualitas keimanan. Maka justru yang dipanggil untuk melaksanakan ibadah puasa adalah orang-orang yang berimanlah yang mampu mengemban ibadah ini. Bila orang ini sukses melaksanakan dengan baik dan sempurna, maka berhak mendapatkan anugerah yang tertinggi yaitu takwa.

Berakhlak mulia Definisi sumber daya manusia (SDM) bila dilihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kurang relevan dalam memahami tulisan ini. Redevinisi SDM yang dikemukana oleh Prof Dr Jasman Ma’ruf MBA (Serambi, 3/6/2017) menyebutkan bahwa SDM adalah “aset penting bangsa yang berketerampilan dan berkemampuan yang memiliki akhlak mulia”.

Dengan demikian, mutu SDM tidak hanya mengandalkan aspek kognitif, efektif dan psikomotorik (keterampilan dan berkemampuan), tetapi juga berakhlak mulia. Karena suatu bangsa akan hancur jika hanya mengandalkan aspek keterampilan dan berkemampuan saja, jika tanpa dibarengi akhlak yang baik.

Kita yakin, dengan ibadah puasa (sirriyyah) seseorang mampu meningkatkan manifestasi keimanan, kejujuran, kesabaran, kepatuhan dan etos kerja. Kita haqqul yaqin, bahwa dengan kesadaran berpuasa akan melahirkan kekuatan fisik dan mental dalam hidup dan kehidupan ini. Kita ‘ainul yaqin, bahwa ruh Ramadhan yang tertanam dalam jiwa mukmin akan memberi pengaruh besar dalam kehidupan karena ditopang oleh akhlaqul karimah dan akan membentuk kepribadian yang tangguh dan ulet.

Finalis-finalis Ramadhan nanti akan kembali kepada fitrah (suci nan bening) jiwanya karena di dalam relung hati yang paling dalam tersinar oleh akhlaqul karimah yang merupakan cermin jiwanya, karena akhlak itu merupakan dorongan dari keimanan, sebab keimanan harus ditampilkan dalam perilaku nyata sehari-hari.

Dengan kata lain bahwa akhlak merupakan akumulasi dari akidah dan syariah yang bersatu secara integral dalam diri seseorang, maka apabila akidah (iman) telah mendorong pelaksanaan syariat (puasa) akan lahir akhlak yang baik (SDM yang handal). Karena akhlak merupakan perilaku yang tampak apabila syariat Islam telah dilaksanakan berdasarkan akidah yang pada gilirannya SDM akan lebih meningkat kualitasnya, kuat dan tangguh. Wallahu a’lam.

Comments


Also Featured In

    Like what you read? Donate now and help me provide fresh news and analysis for my readers   

Donate with PayPal

© 2023 by "This Just In". Proudly created with Wix.com

bottom of page