SAKSI MELIHAT KORBAN HELI BASARNAS MELAMBAIKAN TANGAN
- Jul 4, 2017
- 2 min read
RIFANFINANCINDO
RIFANFINANCINDO - SEMARANG, Seorang warga Dusun Bulu, Desa Canggal, Kecamatan Candiroto, Temanggung, mengaku melihat penumpang heli melambaikan tangan sesaat sebelum jatuh di Bukit Muntung, Gunung Butak, Dusun Bulu, Minggu (2/7/2017) sore.
Warga yang mengaku bernama Ahmad itu mengatakan, saat itu, heli terbang rendah sekitar 15 meter dari atas masjid desa setempat, sekitar pukul 16.00 WIB.
"Saya lihat ada penumpang heli yang lambaikan tangan," kata Ahmad, Minggu (2/7/2017) malam.
Selanjutnya, Ahmad melihat heli belok ke arah barat. Sekitar 10 menit kemudian, terdengar ledakan.
Bersama warga, Ahmad kemudian mendatangi lokasi jatuhnya heli tersebut. Butuh waktu lama untuk sampai ke lokasi karena medannya yang merupakan perbukitan. Sekitar pukul 17.15 WIB, warga baru sampai lokasi heli jatuh.
"Sampai di lokasi mereka sudah meninggal semua sepertinya," ujarnya.
Delapan korban jatuhnya helikopter Basarnas di Bukit Muntung, Gunung Butak, Dusun Canggal Bulu, Desa Canggal Kecamatan Candiroto, gugur saat melaksanakan tugas evakuasi letupan di kawah Sileri Banjarnegara.
Kepala Basarnas Marsekal Muda TNI Muhammad Syaugi mengatakan pukul 16.00 helikopter Basarnas diawaki empat orang crew dan empat orang tim rescue menuju ke lokasi letupan kawah tersebut.
Pukul 16.14 helikopter tersebut dipantau di Basarnas Commad Center Jakarta telah melewati batas ketinggian minimum.
Helikopter milik Badan SAR Nasional (Basarnas) jatuh usai menabrak tebing Gunung Butak, Desa Canggal, Kecamatan Candiroto, Temanggung, Minggu (2/7) sore. (tribunjateng/cetak/grafis ilham cahyo)
"Penyebabnya kami belum tahu. Tiga menit setelah itu kami melihat di Basarnas Command Center Jakarta emergency locater transmitor yang ada di heli tersebut menstranlitkan signal discreade message yang menyatakan heli kena benturan pada pukul 16.17," terangnya, saat jumpa pers di rumah sakit Bhayangkara, Senin (3/7/2017).
Syaugi mengatakan setelah kejadian tersebut, langsung mengecek ke air traffic control di Bandara Ahmad Yani Semarang untuk memastikan apakah helikopter Basarnas mengalami lost contact (hilang komunikasi).
Foto kokpit helikopter HR 3602 sesaat sebelum jatuh di Bukit Muntung, Temanggung, Minggu (2/7/2017). (tribunjateng/daniel/humas basarnas)
"Pada 16.30 kami mengirim tim Basarnas dari Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya dibantu dari tim kepolisian, TNI, maupun potensi setempat untuk menuju ke lokasi kejadian," ujarnya.
Tim sampai ke lokasi kejadian pukul 19.30 dalam kondisi hujan.
Posisi helikopter berada di tebing dengan ketinggian 7.000 kaki (atau 2.133m). Saat itu juga tim Basarnas dengan tim yang lain mengevakuasi korban yang ada di dalam helikopter tersebut.
Helikopter milik Basarnas jatuh menabrak tebing Gunung Butak, Desa Canggal, Kecamatan Candiroto, Temanggung, Minggu (2/7) sore. Puing-puing Helikopter telah dikumpulkan. (tribunjateng/m zainal arifin)
"Tim berjalan kaki dari tempat terakhir mobil dan motor diparkirkan selama dua jam untuk mencapai lokasi kejadian. Seluruh korban dapat dievakuasi dengan cepat dan pukul 02.30 seluruh korban dapat dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara," terangnya.
Syaugi menuturkan helikopter yang digunakan untuk evakuasi adalah HR 3062 jenis dauphin buatan Perancis tahun 2013. Helikopter tersebut digunakan Basarnas tahun 2015.
"Helikopter yang digunakan penerbangan layak terbang. Sisa jam masih 10 jam terbang untuk keperawatan 600 jam terbang," ujarnya.
PUING - Kasi Operasi Peralatan dan Komunikasi Basarnas Agus Tamim mengumpulkan puing-puing helikopter Basarnas yang jatuh di Temanggung, Senin 3 Juli 2017 (tribunjateng/m zainal arifin)
Menurutnya, dari data BMKG kondisi cuaca secara umum dinyatakan baik. Namun informasi dari warga kondisi cuaca saat itu hujan dan berkabut.
"Tadi malam kami sudah mengambil kokpit data voice recoder. Nanti kami akan selidiki apa penyebab dari kejadian tersebut," ujarnya.

Comments