MENGENCANGKAN BADAN DAN ASIKNYA OLAHRAGA DENGAN SI KECIL
- Jul 24, 2017
- 3 min read
RIFAN FINANCINDO
RIFAN FINANCINDO - SEMARANG, Untuk mendapatkan tubuh yang langsing memang bukan perkara yang mudah. Namun setelah berhasil mendapatkan tubuh ideal, ternyata masih ada masalah yang menunggu yaitu kulit yang kendur dan terlihat bergelambir.Demikian hal ini juga pernah dirasakan oleh praktisi gaya hidup sehat Jemima Djatmiko. Meski dijuluki perempuan paling bugar se-Indonesia usai menjuarai sebuah kompetisi kebugaran, Jemima juga pernah mengalami punya tubuh gemuk.Perempuan yang juga seorang instruktur crossfit ini, sejak kecil hingga kuliah sudah bertubuh besar dengan berat badan 76 kg. Kemudian ia mulai melakukan olahraga lari namun masih merasa kurang maksimal sehingga perlu didukung juga dengan latihan beban."Buat tubuh lebih kencang yang pasti itu angkat beban sih. Harus lifting weight. Saya mulainya memang di lari. Paling simpel itu lari, cardio untuk lose weight. Tapi saya nggak angkat beban jadi badan saya kendor nggak kencang," ujar wanita kelahiran tahun 1980 itu kepada detikHealth."Nah angkat beban sedikit-sedikit dengan functional movements, body weight dulu habis itu mulai tambah beban sedikit-sedikit," tambah Jemima.Angkat beban efektif mengencangkan otot tubuh Foto: thinkstockBila belum tahu cara latihan angkat beban seperti apa, Jemima menyarankan untuk mengikuti kelas yang disediakan di pusat-pusat kebugaran. Sebab menurutnya latihan ini memiliki konsentrasi melatih otot secara spesifik.Baca juga: Mau Tubuh Bugar dan Kulit Sehat Ala Kate Hudson? Ini Rahasia Dietnya"Kan banyak sekarang di gym-gym nawarin kelas kayak body pump, atau apa. Ikut bersama kelas yang ada instruktur tapi tetap harus ada latihan beban untuk mengencangkan otot," terang Jemima.Jemima menambahkan, supaya efektif, ada 3 hal yang harus diperhatikan, yakni terus rutin berolahraga, nutrisi yang benar dan seimbang, kemudian terakhir istirahat yang cukup."Sebab kalau salah satu dari ketiga ini kurang pasti kurang efektif, kurang makan ototnya nggak terbentuk, kurang tidur badannya capek jadi nggak bisa bakar lemak, metabolismenya lambat," imbuhnya.Untuk asupannya sendiri, Jemima menyarankan untuk menghindari makanan yang diproses. Misal makanan yang ada kandungan tepungnya. "Jadi yang bisa diambil dari alam langsung dimakan. Kalaupun dimasak, dengan olive oil," pungkas Jemima.
Bunda pasti sering ya dengar kata 'bermain sambil belajar'. Tapi kalau olahraga sambil bermain pernah dengar nggak? Jadi olahraga sambil bermain ini adalah olahraga yang bisa orang tua lakukan bersama anaknya dengan gembira. Untuk menghilangkan stres pada orang tua, bisa nih berolahraga bersama anaknya. Iya, Bun, selain makin terjalin kedekatan dengan si kecil, juga bisa menghilangkan stres. Olahraga bersama anak ini nggak sulit kok Bun. Nggak harus mengajak anak ke tempat gym atau ke pusat olahraga. Olahraga bersama anak bisa dilakukan di manapun asalkan memiliki ruang yang cukup untuk melakukan gerakan. Biasanya tempat-tempat yang bisa Bunda lakukan adalah di dalam ruangan rumah yang agak luas, di taman, di roof top, atau di teras rumah. "Olahraga bersama anak lebih baik dilakukan dengan olahraga yang namanya functional movement atau functional training, jadi maksudanya gerakan-gerakan yang dilakukan sebenarnya gerakan-gerakan yang secara basic kita lakukan sehari-hari," kata Adianti, pendiri 'Fit Mum and Bub', yang rutin olahraga bareng anaknya. Gerakan dasar yang bisa dilakukan misalnya squat. Iya, squat merupakan gerakan seperti saat kita akan mengambil barang, di mana dimulai dari jongkok dulu di bawah. "Olahraga sambil bermain itu adalah gerakan-gerakan yang memang menstimulasi otot di setiap bagian tubuh anak, olahraga bersama anak kita bungkus dan dikemas seperti bermain," sambung Adianti. Buat anak, bermain sambil olahraga juga banyak manfaatnya. Soalnya anak jadi banyak gerak, Bun. Ini seperti anjuran WHO bahwa anak-anak itu sebaiknya harus bergerak selama 60 menit sehari. 60 Menit itu gabungan antara pergerakan biasa hingga olahraga. Tidak perlu secara langsung untuk bergerak 60 menit, tapi bisa diakumulasikan dengan dibagi menjadi beberapa bagian seperti anak menonton TV dulu, lalu kita suruh bergerak untuk jalan keluar atau dengan hal apapun. Jadi bisa dibagi-bagi waktunya ya, tidak langsung 60 menit si anak diminta bergerak. Apalagi, Bun, anak-anak sekarang itu lebih banyak duduk untuk bermain game atau menonton televisi. Karenanya pergerakan 60 menit untuk anak sangat diperlukan. Nggak cuma itu, melalui kegiatan ini, Bunda dan si kecil bisa mendapatkan quality time, juga membangun kepercayaan dan pondasi yang kuat bagi tubuh agar tetap sehat. Terus kapan anak bisa diajak olahraga bareng? Kata Adianti, bisa dilakukan sejak anak berusia tiga bulan. Misalnya dengan menjadikan anak sebagai 'beban' untuk kegiatan angkat beban, baik bagi tangan maupun kaki. Tapi ingat ya, hati-hati, jangan sampai anak jadi terlempar sana-sini. Yuk Bun ajak anak untuk sehat. Jangan biarkan si anak cuma duduk terus dengan gamenya dan film kartunnya. Mulai dari sekarang buat pola sehat untuk keluarga, soalnya kalau udah sakit, jatuhnya mahal.

Comments