LUKISAN AIR LIUR YANG KONTROVERSI, GAJI KECIL DI FACEBOOK
- Jul 26, 2017
- 3 min read
RIFANFINANCINDO
RIFANFINANCINDO - SEMARANG, Lukisan karya Justine Varga yang menampilkan potret neneknya telah menimbulkan kontroversi di penghargaan Olive Cotton, Australia. Lukisan yang memenangkan hadiah $ 20.000 itu berjudul 'Maternal Line', tidak berisi wajah seseorang tapi menggunakan corak pena nenek dan goresan air liur untuk pekerjaannya. Air liur tersebut yang menjadi kontroversi. Publik banyak yang beranggapan lukisannya kembali ke era 70 tahun yang lalu karena Jackson Pollock pernah membuat lukisan tetesan abstrak. Ada juga yang menganggap air liur tidak pantas disebut seni. Kritikus seni Will Gompertz di situs BBC menuliskan ide Varga dalam melukis adalah menciptakan potret batin. "Jadi tidak masalah seperti apa penampilan neneknya, ini tentang bagaimana dirinya," tuturnya, seperti dilansir detikHOT, Kamis (27/7/2017).
Dari kombinasi warna, teks, serta komposisi secara keseluruhan terlihat sosok obyek perempuan di dalam lukisan tidak konvensional tapi terkadang spiritual. "Saya pikir gambarnya memiliki kualitas yang halus. Tidak mungkin orang yang baru belajar seni bisa melakukan hal itu," kata Will Gompertz. Menurutnya, lukisan Justine Varga digambar oleh pelukis yang masih malu-malu, seseorang yang tahu akibat dari penggunaan air liur, serta mengambil pandangan berbeda dari genre seni lukis manapun.
Nicole dan suaminya Victor yang sama-sama bekerja di kafetaria Facebook, hidup di dalam garasi yang muat untuk dua mobil. Tak hanya berdua, ada tiga buah hati yang juga tinggal di sana, masing-masing berusia 4,8 dan 9 tahun. Memangnya berapa gaji mereka hingga sampai kekurangan? Victor menyebutkan, beberapa waktu lalu dirinya dan Nicole ikut dalam barisan 500 pekerja kafetaria Facebook yang memilih bergabung dengan serikat pekerja, Unite Here Local 19. Serikat ini berisi pekerja industri teknologi yang memperjuangkan kehidupan yang lebih baik. Baik Facebook maupun penyedia katering outsource Flagship Facility Services yang digunakan Facebook, menentang gerakan serikat pekerja ini. "Putri kami terus bertanya, kapan dia akan punya kamar sendiri. Dan kami tidak tahu harus menjawab apa," tambah Nicole. Bekerja di kafetaria Facebook mungkin terdengar wah bagi sebagian orang. Nicole digaji USD 19,85 per jam sebagai kepala shift, sementara Victor diupah USD 17,85. Gaji ini memang di atas bayaran minimum per jam USD 15 bagi penyedia layanan katering. Namun di wilayah di mana para software engineer masih bekerja keras memenuhi kebutuhan, meski sudah digaji empat kali lipat, keluarga Nicole benar-benar prihatin.
Foto: Guardian
Nicole dan Victor kesulitan membayar asuransi kesehatan yang ditawarkan oleh atasan, mereka juga berjuang mencari cukup uang untuk kebutuhan dasar seperti makanan dan pakaian untuk anak-anak mereka. Victor baru-baru ini juga meminjam uang dari ibunya demi bisa membuat pesta ulang tahun bagi putrinya. Dia pun sempat meminjam uang kepada teman untuk ke dokter gigi. Terkadang keduanya bernostalgia mengingat hari-hari sebelum Facebook pindah ke Menlo Park, California, AS. Ketika Victor masih kecil, ayahnya bisa membeli rumah kecil dari pendapatannya sebagai penata rumah. Saat belum menikah, Nicole dan Victor digaji USD 12 per jam sebagai manajer di restoran Chipotle dan bisa mendapatkan apartemen. "Saya merasa lebih aman dengan pekerjaan sebelumnya. Saya tidak perlu melihat orang memandang saya rendah," kata Nicole. Kini dia bekerja di kafetaria sebuah perusahaan yang dikenal banyak orang sebagai tempat yang keren dan menjadi dambaan untuk bekerja di sana. Menurutnya, jarak antara dua kelas pekerja Facebook sangat terasa. "Mereka melihat kami lebih rendah. Seperti kami tidak layak mendpaat hidup lebih baik. Para pekerja teknologi menjalani mimpi mereka. Ini semua hanya untuk mereka," sebutnya. Pada setiap akhir shift bekerja, Nicole hanya bisa melihat makanan tersisa dalam jumlah besar dibuang untuk menjadi pupuk. Makanan tersebut tidak diperbolehkan untuk dibawanya pulang. Menurutnya menerima perlakukan diskiriminasi juga terjadi pada pekerja kafetaria, karena mereka tidak bisa mengakses layanan kesehatan di klinik yang disediakan Facebook. Tak hanya itu, Facebook baru-baru ini punya program 'Bring your kids to work', satu hari yang membolehkan karyawan membawa anak-anak mereka ke kantor. Namun hal ini tidak berlaku bagi para pekerja kafetaria. Juru bicara Facebook mengatakan, tidak ada pekerja kontrak atau outsource yang punya akses ke klinik, gym, dan fasilitas lain. Kebijakan ini terkait dengan pekerja dan outsource yang digunakan Facebook. "Kami berkomitmen menyediakan lingkungan kerja yang aman dan adil bagi semua orang yang membuat Facebook dekat bagi semua orang, termasuk kontraktor," kata juru bicara tersebut, seraya menolak berkomentar mengenai kebijakan bagi para pekerja di kampus Facebook. "Orang berkomentar, 'Oh Anda kerja di Facebook. Keren sekali,'" kata Victor. Nyatanya, menurut Victor, bekerja di Facebook tidak selalu menyenangkan, karena tidak semua karyawan merasakan keasyikan bekerja seperti yang selama ini sering digambarkan. "Kami tidak minta gaji berjuta-juta. Kami hanya ingin agar tak perlu takut jika harus ke dokter. Itulah alasan kami bersatu," tutupnya.

Comments