top of page

CANBERRA MEMPUNYAI TAMAN YANG BISA DIPINDAH, PRESIDEN FILIPINA BERTEMU DENGAN MATA-MATA AUSTRALIA

  • Aug 23, 2017
  • 4 min read

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO - SEMARANG, Kawasan Garema Place di Canberra akan segera menjadi rumah bagi taman mikro yang bisa dipindah-pindah, senilai $35.000, lebih dari Rp 350 juta, dengan ukuran yang tidak lebih besar dari garasi dua mobil.

Taman ini akan menjadi yang pertama dari 20 taman-taman kecil yang akan dibuat di penjuru ibu kota Australia, dengan nilai keseluruhan mencapai $700.000, atau lebih dari Rp 7 miliar.

Pengembangan kawasan luar ruangan menjadi rencana yang tidak biasa dari pemerintah Kawasan Ibu Kota Australia (ACT), dengan tujuan membawa keramaian kembali ke pusat-pusat kota.

Proyek ini berdasarkan keberhasilan eksperimen sosial pop-up park, yang berlangsung selama delapan hari di Garema Place, Oktober tahun lalu. Saat itu kawasan terlihat lebih berwarna-warni dengan kursi, pohon yang ditutupi rajutan, serta trotoar yang dihias.

Laporan proyek setebal 49 halaman menunjukkan adanya peningkatan pengunjung hingga 190 persen ke kawasan Garema Place selama pop-up. Hal ini mendorong komitmen pemerintah lokal ACT untuk mencoba taman mikro.

Garema Place pernah membuka taman 'pop-up' sebagai eksperimen di tahun 2016. (Foto: ACT Government)

Menteri Pelayanan Kota, Meegan Fitzharris menggambarkan taman mikro sebagai "ruang yang biasanya diletakkan di daerah perkotaan yang kurang dimanfaatkan, karena cukup padat, sehingga bisa menghidupkan kawasan tersebut dan menyediakan ruang hijau bagi warga."

Dan menurutnya, Pemerintah belum mengkonfirmasi ukuran yang tepat dari taman mikro, namun ukurannya akan tergantung pada desainnya.

Fitzharris mengatakan ia membayangkan taman mikro itu berukuran sekitar 30 meter persegi, atau seukuran garasi dua mobil.

"Kami punya rencana besar untuk taman mikro di sekitar Canberra," katanya.

"Kami sudah melihatnya di Canberra dan kami juga sudah melihatnya berjalan di seluruh dunia, di mana ruang benar-benar dihidupkan kembali dengan tanaman hijau, aktivitas yang lebih banyak, dan tempat-tempat untuk rehat."

Fitzharris juga membela biaya yang dikeluarkan untuk proyek tersebut, yakni lebih dari setengah juta dolar Australia. Menurutnya, pemerintah baru-baru ini menghabiskan $3 juta untuk memperbaiki pusat kawasan Tuggeranong, $3 juta untuk di kawasan pusat kota Gungahlin. $3 juta dolar Australia senilai lebih dari Rp 30 miliar. Serta $2 juta, atau lebih dari Rp 20 miliar untuk pusat perbelanjaan Kambah.

Menurutnya, dengan desain yang portable, atau bisa dipindah-pindah, artinya taman tersebut bisa dipindahkan untuk menghidupkan kembali sejumlah kawasan di kota Canberra.

Enam desain pertama taman mikro

Taman jenis micro park akan memiliki sejumlah tempat duduk dan bersantai. (Foto: ACT Government)

Warga Canberra saat ini diajak untuk memilih desain favorit mereka dari enam desain untuk taman mikro di Garema Palace.

Salah satu desainnya, berjudul Grounds of Garema, berbentuk amfiteater lengkap dengan komunitas piano, meja piknik dan payung.

Desain lainnya, Hakanasa, seperti dalam perayaan saat bunga sakura bermekaran atau Hanami. Taman mikro ini menampilkan pohon wattle untuk memasukkan unsur Australia.

Desain lainnya termasuk fitur seperti platform yang ditinggikan, deck kayu dengan bentuk gelombang, serta kursi bunga yang berputar.

Instalasi pertama diharapkan dibangun antara Bunda Street dan City Walk pada bulan November 2017, untuk bisa digunakan warga selama liburan musim panas.

Taman mikro kedua diperkirakan akan dibangun di Woden tahun depan.

Ini bukanlah foto yang bisa Anda lihat setiap hari -- pemimpin berkuasa dan kepala mata-mata.

Nick Warner, kepala badan mata-mata internasional Australia (ASIS), berdiri di samping salah satu pemimpin paling kontroversial di Asia Tenggara, Rodrigo Duterte.

Presiden Filipina, yang kampanye perangnya terhadap narkoba telah menyebabkan ribuan nyawa melayang dan menimbulkan kecaman keras dari kelompok hak asasi manusia di seluruh dunia, mengangkat tangannya dengan kepalan tangan andalannya.

Begitu pula dengan Nick Warner.

Kedua pria tersebut bertemu di Istana Malacañang di Manila pada hari Selasa (22/8/2017). Seorang juru bicara untuk Duterte mengatakan bahwa pertemuan tersebut "pada dasarnya merupakan pertemuan kehormatan" dan kedua pria, "membahas isu keamanan regional dan deklarasi saling mendukung".

Banyak isu yang bisa didiskusikan. Filipina telah melakukan kampanye keras melawan militan Islam di kota Marawi. Dan Australia semakin khawatir dengan arus balik dari para militan asing ke Asia Tenggara dari perang di Timur Tengah.

Pekan lalu, Australia secara resmi mengakui kelompok ISIS di Pasifik Timur -- yang berusaha merebut kekuasaan Marawi dari Pemerintah Filipina -- sebagai organisasi teroris yang terlarang.

Hal yang juga tak biasa bagi Warner untuk bertemu dengan para pemimpin asing, namun sebagian besar pertemuan tersebut akan diadakan secara tertutup.

President Duterte meets with Australian Secret Intelligence Service Director General Nick Warner in Malacañang | via @pia_gutierrezpic.twitter.com/xCOydBGURN — ABS-CBN News (@ABSCBNNews) August 22, 2017 TWITTER: Duterte Bertemu Intel Australia

Jadi, kepala ASIS -dan pejabat DFAT (Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia) -mungkin sedikit terkejut melihat foto-foto Warner berpose dengan Duterte muncul di pers lokal Filipina.

Warner adalah satu-satunya karyawan ASIS yang identitasnya bisa diungkap kepada publik, namun aktivitas hariannya sebenarnya bukan untuk konsumsi publik.

Dan, seperti biasa, Pemerintah Australia tak berkomentar sepatah kata pun tentang pertemuan terbaru Warner itu.

Pertemuan tersebut juga menunjukkan bagaimana pejabat Australia tak membiarkan ketidaksukaan mereka terhadap Presiden Filipina menghalangi diplomasi reguler.

Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop, berulang kali mengkritik Duterte, yang secara terbuka menyatakan bahwa ia senang membunuh "jutaan" pecandu narkoba dalam perang melawan kejahatan.

Ketika Menlu Bishop bertemu dengan Duterte awal bulan ini, ia menekan sang Presiden atas pembunuhan ekstra-yudisial di Filipina yang meluas, dengan mengatakan bahwa masalah itu "menjadi perhatian mendalam" Australia.

Dan duduk di samping Warner dalam pertemuan tersebut adalah Duta Besar Australia untuk Filipina, Amanda Gorely.

Tahun lalu, Duta Besar Gorely menyerang Duterte saat ia bercanda tentang pemerkosaan dan pembunuhan seorang misionaris Australia di Filipina pada tahun 1989.

"Pemerkosaan dan pembunuhan tidak boleh menjadi bahan lelucon atau diremehkan," unggah Gorely di Twitter.

Tapi dalam diplomasi, ternyata Anda tak selalu bisa memilih masalah -atau tokoh yang Anda temui.

Comments

Couldn’t Load Comments
It looks like there was a technical problem. Try reconnecting or refreshing the page.

Also Featured In

    Like what you read? Donate now and help me provide fresh news and analysis for my readers   

Donate with PayPal

© 2023 by "This Just In". Proudly created with Wix.com

bottom of page