top of page

WHATSAPP MULAI INCAR DUIT, KORUT MASIH MENYIAPKAN HADIAH UNTUK AS

  • Sep 6, 2017
  • 2 min read

RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO - SEMARANG, Semenjak dibeli seharga 22 miliar dollar AS oleh Facebook tahun 2014 lalu, WhatsApp belum memiliki jalur pemasukan yang signifikan.

Oleh sebab itulah, perusahaan layanan pesan instan tersebut berupaya mengeksplorasi upaya monetize melalui para pelaku bisnis. Ya, WhatsApp kini mulai cari uang melalui para pebisnis. Uji cobanya sendiri direncanakan mulai bergulir dalam beberapa bulan ke depan.

Dalam perkembangan terbaru, WhatsApp mengumumkan bakal mulai menguji coba fitur-fitur yang dirasa bakal berguna untuk para pelaku bisnis yang selama ini sudah menggunakan layanannya untuk berkomunikasi dengan konsumen.

“Kami sedang membangun dan menguji aneka tool baru lewat aplikasi WhatsApp business untuk perusahaan kecil dan solusi enterprise untuk perusahaan berskala besar dengan basis pelanggan global,” tulis WhatsApp dalam sebuah posting blog.

Contoh-contoh pelaku bisnis yang disasar WhatsApp mulai dari toko roti dan pakaian lokal untuk usaha kecil, hingga maskapai penerbangan, situs e-commerce, dan perbankan untuk perusahaan berskala besar.

Nantinya, layanan WhastApp bisa dipakai untuk memudahkan komunikasi dengan pelanggan, misalnya memberikan statementtertulis, konfirmasi pengiriman barang, dan bentuk-bentuk komunikasi lainnya.

“Kami tahu masing-masing bisnis punya kebutuhan berbeda. Misalnya, mereka ingin official presence -profil yang terverifikasi sehingga mudah diidentifikasi dan dibedakan dari orang lain- serta cara yang lebih mudah untuk merespons pesan (dari pelanggan),” lanjut WhatsApp.

Sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Reuters, Rabu (6/9/2017), WhatsApp diketahui sudah memulai pilot program yang menambahkan badge berwarna hijau untuk menandai akun perusahaan yang sudah diverifikasi. Ada juga aplikasi WhatsApp Business yang khusus ditujukan bagi pelaku usaha.

Chief Operating Officer WhatsApp Matt Idema mengatakan pihaknya berencana menarik biaya langganan dari para pelaku bisnis sebagai salah satu sumber pemasukan. Namun, dia mengaku belum bisa memberikan informasi lebih jauh soal seperti apa persisnya fitur-fitur berbayar itu nanti.

“Kami masih memikirkan detail-detail monetisasinya,” ujar Idema.

Korea Utara kembali melancarkan retorik ofensif beberapa hari seusai uji coba bom yang mengundang kecaman dunia.

Kali ini, Korut berbicara di markas Perserikatan Bangsa-bangsa ( PBB) di Geneva, melalui Duta Besar Korut untuk PBB Han Tae Song.

Dia menyatakan, uji coba senjata nuklir itu adalah “hadiah” yang diberikan untuk Pemerintah Amerika Serikat.

“ AS akan menerima lebih banyak lagi 'hadiah' dari kami, jika mereka terus menggunakan tekanan dan provokasi untuk menekan Korut,” ucap Han.

Han melanjutkan, uji coba senjata nuklir itu merupakan bagian dari rencana jangka panjang untuk secara bersamaan mendorong kemajuan ekonomi dan kemampuan nuklir negara tertutup itu.

Uji coba yang digelar Pyongyang hari Minggu, dan diklaim sebagai bom hidrogen yang dirancang untuk rudal jarak jauh, memicu perhatian dunia.

Duta Besar AS Nikki Haley mengatakan dalam sidang Dewan Keamanan PBB, Washington akan memberikan keputusan sanksi baru untuk dinegosiasikan dalam beberapa hari mendatang.

Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin menolak seruan AS untuk sanksi lebih banyak, dan menyebut hal tersebut tak akan berguna.

Komentar Putin tampaknya telah memperluas perpecahan di antara kekuatan utama dunia, tentang bagaimana mengendalikan Pyongyang.

Kondisi itu menghadapkan Moskwa dan Beijing melawan Washington, dan sekutu-sekutunya.

 
 
 

Comments


Also Featured In

    Like what you read? Donate now and help me provide fresh news and analysis for my readers   

Donate with PayPal

© 2023 by "This Just In". Proudly created with Wix.com

bottom of page