Harga Minyak Memanas Lagi, Terdorong Prospek Permintaa
- Apr 16, 2021
- 3 min read
PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG - Harga minyak naik ke level tertinggi baru empat minggu pada akhir perdagangan Kamis (15/4/2021) atau Jumat pagi WIB.
Mengutip Antara, harga minyak terangkat data ekonomi AS yang positif serta perkiraan permintaan yang lebih tinggi dari Badan Energi Internasional (IEA) dan OPEC, ketika negara-negara mulai pulih dari pandemi COVID-19.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei bertambah 36 sen atau 0,5 persen menjadi US$66,94 per barel, setelah melonjak hampir 4,6 persen pada Rabu (14/4/2021).
Sementara itu, minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik 31 sen atau 0,5 persen menjadi US$63,46 per barel, setelah terangkat 4,9 persen sehari sebelumnya.
Itu adalah posisi penutupan tertinggi untuk kedua kontrak acuan sejak 17 Maret untuk hari kedua beruntun serta menempatkan kedua kontrak naik selama empat hari berturut-turut untuk pertama kalinya sejak Februari.
"Minyak mulai terhubung kembali dengan ekuitas yang kuat dengan bantuan lebih lanjut dari melemahnya dolar," kata Presiden Ritterbusch and Associates, Jim Ritterbusch, di Galena, Illinois.
Penjualan ritel AS rebound lebih tinggi dari yang diharapkan pada Maret ketika warga Amerika menerima bantuan langsung tunai pandemi tambahan dan karena vaksinasi COVID-19 memungkinkan keterlibatan kembali ekonomi yang lebih luas.
Data dan laba positif dari beberapa perusahaan membantu mendorong Indeks S&P 500 dan Dow Jones ke rekor tertinggi, mendukung harapan rebound ekonomi yang lebih luas.
Dolar AS berada di jalur untuk jatuh ke level terendah empat minggu terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya. Dolar yang lebih lemah membuat minyak lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya, yang menurut para pedagang membantu mendukung harga minyak mentah.
"Kenaikan Rabu (14/4/2021) sedikit berlebihan, tetapi dibangun dengan alasan yang valid karena beberapa laporan penting memperkirakan pertumbuhan permintaan untuk paruh kedua tahun ini serta stok minyak mentah AS mengejutkan para pedagang dengan penurunan cukup signifikan," kata Kepala Pasar Minyak Rystad Energy, Bjornar Tonhaugen.
BacaJuga :
PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA | Rifan Financindo Berjangka Gelar Sosialisasi Cerdas Berinvestasi PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA | PT Rifan Financindo Berjangka Buka Workshop Apa Itu Perusahaan Pialang, Masyarakat Harus Tahu RIFAN FINANCINDO | Kerja Sama dengan USU, Rifan Financindo Siapkan Investor Masa Depan PT RIFAN | Bursa Berjangka Indonesia Belum Maksimal Dilirik Investor RIFANFINANCINDO | Rifan Financindo Intensifkan Edukasi RIFAN FINANCINDO BERJANGKA | Berburu keuntungan berlimpah melalui industri perdagangan berjangka komoditi RIFAN | Rifan Financindo Optimistis Transaksi 500.000 Lot Tercapai PT. RIFAN FINANCINDO BERJANGKA | Sharing & Diskusi Perusahaan Pialang Berjangka PT. RFB PT. RIFAN | PT Rifan Financindo Berjangka Optimistis PBK Tetap Tumbuh di Medan RIFAN BERJANGKA | Bisnis Investasi Perdagangan Berjangka Komoditi, Berpotensi tapi Perlu Kerja Keras PT. RIFAN FINANCINDO | JFX, KBI dan Rifan Financindo Hadirkan Pusat Belajar Futures Trading di Kampus Universitas Sriwijaya PT RIFANFINANCINDO | RFB Surabaya Bidik 250 Nasabah Baru hingga Akhir Tahun PT RFB | PT RFB Gelar Media Workshop PT RIFANFINANCINDO BERJANGKA | Mengenal Perdagangan Berjangka Komoditi, Begini Manfaat dan Cara Kenali Penipuan Berkedok PBK RFB | RFB Masih Dipercaya, Transaksi Meningka
"Hari ini pasar mempertahankan keuntungan ini, hanya mengurangi sedikit antusiasme minggu ini," kata Tonhaugen.
IEA dan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) minggu ini membuat revisi naik untuk perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global mereka tahun ini, masing-masing menjadi 5,7 juta barel per hari (bph) dan 5,95 juta bph.
Persediaan minyak mentah AS turun 5,9 juta barel pekan lalu, data pemerintah menunjukkan pada Rabu (14/4/2021), dengan stok minyak mentah di East Coast jatuh ke rekor terendah.
Disiplin pasokan dan ekonomi rebound diperkirakan akan memberikan minyak kesempatan untuk keluar dari kisaran baru-baru ini, analis di Goldman Sachs mengatakan dalam sebuah laporan.
"Kami tetap positif pada minyak Brent di level US$80 per barel pada kuartal III/2021 di tengah pemulihan permintaan jangka pendek dan disiplin pasokan," katanya.
Terlepas dari semua berita ekonomi bullish, beberapa pedagang energi mencatat kenaikan harga minyak kemungkinan akan dibatasi oleh rencana OPEC untuk memangkas pengurangan produksi mulai bulan depan.
OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, setuju untuk mengembalikan produksi sekitar 2 juta barel per hari selama tiga bulan ke depan.
Sementara itu, Amerika Serikat memberlakukan sanksi lebih luas terhadap Rusia atas tuduhan intervensi dalam pemilu AS tahun lalu, peretasan dunia maya, penindasan di Ukraina, dan tindakan-tindakan "merugikan" lainnya.
Sumber : Bisnis

Comments