Incar Produksi 1 Juta Barel per Hari, SKK Migas Target Bor 616 Sumur di 2022
- Apr 27, 2021
- 3 min read
PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SEMARANG - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan pemboran 616 sumur di 2022 untuk mengejar target capaian produksi 1 juta barel per hari.
Kepala SKK Migas Dwi Sutjipto mengatakan, kegiatan pengeboran baru akan dimulai di awal tahun dengan pengadaan, lalu dilanjutkan di triwulan ke-II dan III dengan eksplorasi.
"Tahun ini target menjadi 616 sumur, jadi produksi ini sangat tergantung dari jumlah sumur yg dibor, dan itu tergantung investasi. Jadi kita kejar ke 600 (sumur)," kata Dwi dalam konferensi pers capaian kinerja SKK Migas, Senin (26/4/2021).
Adapun, target pengeboran ini lebih tinggi dari capaian pengeboran sumur tahun lalu yang mencapai 240 sumur.
Pengeboran sumur sendiri dilakukan sesegera mungkin setelah ada investasi yang masuk ke proyek yang bersangkutan. Dwi bilang, masih banyak rencana investasi yang keputusannya belum final sehingga pengeboran menjadi tertunda.
"Masih harus urus administrasi, khususnya di Pertamina Group, makanya agak mundur (target pengeboran)," katanya.
Ladang minyak dan gas bumi (ladang migas) marginal atau yang ditinggalkan dan tidak terpakai atau terbengkalai di Indonesia jumlahnya mencapai lebih dari 100 ribu titik. Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Daerah Penghasil Migas dan Energi Terbarukan (ADPMET) M Ridwan Kamil.
"Kalau jumlah ladang migas marginal se-Indonesia itu ada lebih dari 100 ribu. Kalau Jabar sendiri BUMD kita sudah siap PT Hulu Migas sehingga nanti Pak Menteri (ESDM) akan mengatur. Tapi regulasi Jabar paling siap, kami menunggu waktu saja," kata Ridwan seusai melakukan pertemuan dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif, di Gedung Sate Bandung, seperti dikutip dari Antara, Jumat (23/4/2021).
BacaJuga :
PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA | Rifan Financindo Berjangka Gelar Sosialisasi Cerdas Berinvestasi PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA SURABAYA | PT Rifan Financindo Berjangka Buka Workshop Apa Itu Perusahaan Pialang, Masyarakat Harus Tahu RIFAN FINANCINDO | Kerja Sama dengan USU, Rifan Financindo Siapkan Investor Masa Depan PT RIFAN | Bursa Berjangka Indonesia Belum Maksimal Dilirik Investor RIFANFINANCINDO | Rifan Financindo Intensifkan Edukasi RIFAN FINANCINDO BERJANGKA | Berburu keuntungan berlimpah melalui industri perdagangan berjangka komoditi RIFAN | Rifan Financindo Optimistis Transaksi 500.000 Lot Tercapai PT. RIFAN FINANCINDO BERJANGKA | Sharing & Diskusi Perusahaan Pialang Berjangka PT. RFB PT. RIFAN | PT Rifan Financindo Berjangka Optimistis PBK Tetap Tumbuh di Medan RIFAN BERJANGKA | Bisnis Investasi Perdagangan Berjangka Komoditi, Berpotensi tapi Perlu Kerja Keras PT. RIFAN FINANCINDO | JFX, KBI dan Rifan Financindo Hadirkan Pusat Belajar Futures Trading di Kampus Universitas Sriwijaya PT RIFANFINANCINDO | RFB Surabaya Bidik 250 Nasabah Baru hingga Akhir Tahun PT RFB | PT RFB Gelar Media Workshop PT RIFANFINANCINDO BERJANGKA | Mengenal Perdagangan Berjangka Komoditi, Begini Manfaat dan Cara Kenali Penipuan Berkedok PBK RFB | RFB Masih Dipercaya, Transaksi Meningka
Menurut Ridwan, Menteri ESDM Arifin Tasrif mendukung gagasan pemanfaatan ladang migas marjinal oleh pemerintah daerah.
"Kemudian Pak Menteri juga mendukung jika ada sumur-sumur marginal yang sudah tidak digunakan bisa dimanfaatkan oleh daerah-daerah untuk mengurangi potensi ilegal yang dilakukan di banyak kasus," kata dia.
Menyikapi keberadaan ladang migas marjinal tersebut, Menteri ESDM Arifin Tasrif menuturkan saat ini jumlah ladang migas marjinal tidak sebesar dahulu namun karena ladang migas marjinal tersebut telah dikembalikan kepada pemerintah maka ditemukan ada kegiatan eksploitasi yang dilakukan secara tidak resmi.
"Dan dampaknya adalah itu yang paling berdampak ke masalah lingkungan karena tidak dikelola dengan kaidah-kaidah penambangan yang baik," kata Menteri Arifin.
Oleh karena itu, kata dia, Kementerian ESDM akan mengupayakan agar keberadaan ladang migas marjinal tersebut bisa diberdayakan untuk kemudian dipertemukan dengan "Bapak Angkat" seperti Pertamina.
"Sehingga bisa dipraktikkan kaidah penambangan yang bisa memberikan manfaat ekonomi terhadap daerah. Jadi ini bisa dilakukan secara lebih formal," kata dia.
Pihaknya memberikan daerah di Indonesia yang telah memanfaatkan keberadaan ladang migas marjinal yang dikerjasamakan atau dibina oleh Pertamina ada di daerah Jambi.
"Walaupun itu belum terlalu banyak tapi ke depan kita akan dorong ini supaya lebih masif," kata dia.
Sumber : Liputan6

Comments